Artritis karena infeksi

Artritis Akibat Infeksi

Pendahuluan

Artritis adalah penyakit yang menyebabkan kerusakan pada sendi. Ada banyak tipe dari penyakit artiritis. Jenis yang umum ditemukan adalah osteoartritis (penyakit degeneratif sendi), artritis reumatoid, artritis psoriasis, penyakit imun, artritis septis, artritis gouty. Dan pada pembahasan kali ini akan diberikan penjelasan mengenai artritis akibat infeksi.

Pembahasan

Semua tipe mikroorganisme dapat melekat pada sendi melalui peredaran darah. Struktur artikular juga dapat terinfeksi dengan inokulasi langsung atau penyebaran dari jaringan yang mengalami abses. Arthritis akibat infeksi merupakan masalah serius karena infeksi dapat menyebabkan destruksi yang cepat pada sendi dan menyebabkan deformitas yang permanen.

1. Artritis supuratif / artritis septis1,2

Infeksi bakteri hampir selalu dapat menyebabkan arthritis supuratif. Bakteri biasa sampai pada sendi melalui mekanisme bakterimia. Akan tetapi pada neonatus ada peningkatan kasus pada osteomielitis epifisis. Organisme yang paling sering menyebabkan artritis septis adalah Gonococcus, Staphylococcus, Streptococcus, Haemophilus influenzae, dan bakteri basil gram negatif (E. coli, Salmonella, Pseudomonas). Artritis akibat H. influenzae paling sering ditemui pada anak-anak usia di bawah 2 tahun, S. aureus pada anak-anak di atas 2 tahun dan dewasa. Gonococcus memiliki prevalensi yang tinggi pada anak usia remaja ataupun dewasa muda (paling sering pada yang aktif secara seksual).

Hal yang dapat ditemukan pada penderita penyakit ini adalah adanya rasa nyeri akut dan pembengkakan pada sendi yang terinfeksi. Kemudian gejala sistemik yang sering ditemukan adalah demam, leukositosis, dan jumlah sedimentasi yang meningkat pada sendi.

Pada penyebaran infeksi gonococcal gejala-gejala memasuki tahap subakut. Dan sebagian besar infeksi selain artritis gonococcal terjadi pada satu sendi, biasanya sendi lutut. Tempat predileksi yang lain adalah sendi panggul, bahu, lengan, pergelangan tangan, dan sternoklavikular.

Patofisiologi

Mekanisme yang dapat menyebabkan mikroorganisme melekat pada sendi adalah inokulasi langsung, penyebaran dari jaringan periartikular sekitar yang terinfeksi, atau melalui aliran darah.

Sendi yang normal memiliki beberapa komponen untuk pertahanan. Sel sinovial yang sehat menjadi sel yang bersifat fagosit, dan cairan sinovial yang normal bersifat sebagai bakterisidal. Infeksi menyebabkan penurunan kualitas fungsi dari cairan sinovial dan menurunkan kemampuan fungsi kemotaksis dan fagositik dari leukosit polimorfonuklear.

Infeksi juga sangat mudah terjadi apabila penderita sudah mengalami penyakit sendi lainnya (misalnya artritis rheumatoid à paling rentan terhadap infeksi). Membran dari sendi mengeluarkan neovaskularisasi dan meningkatkan faktor adhesi. Kedua kondisi ini meningkatkan kemampuan bakterimia. Mikroorganisme tersebut dapat melekat pada sialoprotein artikular, kolagen fibronektin, elastin, asam hialuronat, dan matriks. Pada orang dewasa, anastomosis arteriolar antara epifisis dan sinovium memberikan ruang bagi penyebaran osteomielitis pada ruang sendi.

Akibat yang paling utama pada invasi bakterial adalah kerusakan pada kartilago artikular. Hal ini mungkin disebabakan oleh beberapa organisme yang memiliki properti patologis, seperti kondrosit protease pada S. aureus yang akan merespon leukosit. Akhirnya sel leukosit mensintesis sitokin dan produk inflamasi yang lain, akibatnya terjadi hidrolisis dari kolagen dan proteoglikan.

Selagi proses kehancuran berlanjut, terbentuklah formasi pannus dan erosi kartilago terjadi di bagian luar lateral sendi. Efusi dalam jumlah yang besar akibat infeksi ini dapat mengurangi suplai darah dan menghasilkan nekrosis asepsis pada tulang. Proses kehancuran ini akan semakin parah jika selama tiga hari tidak dilakukan penanganan infeksi.

Penanganan

Penanganan dari artritis dapat berupa drainase cairan sendi dengan cara pembedahan ataupun aspirasi dengan menggunakan spuit secara berkala. Terapi antibiotik juga dapat dilakukan pada sendi yang mengalami artritis tipe ini yaitu dengan cara kultur cairan sinovial dan darah. Kemudian pemberian pengobatan selama 6 minggu. Pemakain linezolid dengan atau tanpa rifampin bisa mengatasi infeksi jenis staphylococcal. Jenis-jenis antibiotik yang lain yang digunakan Ceftriaxone (Rocephin), Ciprofloxacin (Cipro), Cefixime (Suprax), Oxacillin (Bactocill), Vancomycin (Vancocin).

2. Artritis tuberkulosis1

Artritis ini adalah penyakit monoartikular yang bersifat kronik dan progresif. Artritis tuberkulosis dapat terjadi pada semua tingkat usia, pada umumnya dewasa. Penyakit ini biasanya sebagai komplikasi dari sendi yang berdekatan dengan osteomielitis atau penyebaran secara hematogen dari infeksi viseral (dari paru-paru). Onset penyakit ini bersifat insiden sesaat dan menyebabkan gradasi nyeri yang progresif. Gejala sistemik bisa terlihat bisa  juga tidak. Jika terlihat, gejala-gejala yang ditimbulkan adalah terbatasnya gerak sendi, berkeringat dalam jumlah banyak pada malam hari, sendi membengkak dan hangat, demam, atropi otot, spasme otot, kaku, tingling, kelemahan otot, berat badan menurun dan kehilangan nafsu makan.

Patofisiologi

Mikobakteri yang menyerang sendi menginduksi terbentuknya konfluen granuloma dengan nekrosis kaseosa. Sinovium yang terinfeksi akan bertumbuh menjadi pannus menutupi kartilago artikular dan menghancurkan tulang di sekitar sendi. Penyakit kronik membuat kehancuran yang besar pada fibrosa ankilosis dan penghilangan ruangan sendi.

Penganganan

Penanganan pada kasus ini adalah dengan melakukan pengecekan terlebih dahulu secara laboratorium. Hal-hal yang dilakukan adalah aspirasi cairan sendi, biopsi jaringan sendi, X-ray toraks dan sendi, tuberculin skin test. Jika hasil pada pemeriksaan menunjukkan hasil positif maka perlu diberikan antibiotik untuk membunuh bakteri. Obat penghilang rasa nyeri juga perlu dilakukan. Jika kasus sudah sangat kronik, dilakukan drainase abses pada medula spinalis atau menstabilkan medula spinalis.

3. Artritis Lyme1,3

Penyebab artritis lyme ini adalah parasit Borrelia burgdorferi. Penyakit ini ditransmisikan oleh Ixodes ricinus. Siklus hidupnya berawal dari telur – larva – nimfa – dewasa. Gejala yang ditemukan pada penyakit infeksi parasit ini adalah erupsi kulit, demam, nyeri otot dan sendi, pusing, dapat menyerang jantung dan sistem saraf.

Patofisiologi

Ketika B. burgdorferi menginfeksi tubuh pejamu hal-hal yang terjadi sebagai berikut:

–  Pada tahap awal, pasien mungkin belum menunjukkan manifestasi apapun (tidak ada gejala-gejala tertentu) namun pada pemeriksaan serologi positif.

–  Pada tahap selanjutnya, B. burgdorferi menyebar ke seluruh tubuh dan menghasilkan gejala pada saat invasi langsung. Respon inflamasi pada kulit terjadi pada tahap ini.

–  Pada tahap terakhir, B. burgdorferi menginduksi respon imun yang menunjukkan gejala pada beberapa organ. Pada artritis ini dihubungkan dengan faktor-faktor imunologis seperti produksi sitokin proinflamasi dan pembentukan kompleks imun dan juga faktor genetik seperti Human Leukocyte Antigen HLA-DR4 dan HLA-DR2.

Penanganan

Untuk mendiagnosis penyakit ini secara laboratorium dilakukan cek darah. Tahap awal penyakit ini dapat diobati dengan obat antibiotik oral selama 2-3 minggu. Jika sudah parah, diberikan antibiotik secara intravena (jika sudah sampai menyerang jantung dan sistem saraf).

4. Artritis viral1,3,4

Virus adalah agen penginfeksi atau kofaktor dalam menyebabkan perkembangan penyakit reumatik. Infeksi virus bergantung pada faktor dari pejamu dan virus. Faktor pejamu sangat penting dilihat dari usia, jenis kelamin, latar belakang genetik, riwayat infeksi, dan respon imun tubuh. Faktor viral termasuk cara masuk ke tubuh host, tropisme jaringan, replikasi, efek sitokin, kemampuan untuk mengakibatkan infeksi yang persisten atau laten, dan perubahan antigen sel pejamu. Sel yang terinfeksi akan langsung apoptosis.

Kompleks imun dari respon antibodi dapat dikerahkan pada daerah yang terinfeksi (ke sinovium). Autoimun akibat virus, aktivasi poliklonal sel B, dan imunodefisiensi akan berakibat pada infeksi oportunis, secara umum karena ketidakmampuan respon imun dalam mengeliminasi virus.

Jenis-jenis virus yang dapat menyebabkan kelainan ini adalah

Virus Keadaan klinis
Parvovirus B19 Pada wanita dengan infeksi à eritema. Sering berawal dari gatal à garukan kulit
Hepatitis A Nyeri otot dan 10 % dari garukan kulit
Hepatitis B Onset pada fase preikterik, jaundice, artritis kronik
Hepatitis C Mirip dengan hepatitis B
Rubella Onset bisa sebelum, selama, atau setelah dari adanya erupsi kulit

Biasa terjadi pengempisan radang dalam beberapa minggu

Kemungkinan timbul kembali dan bisa menetap

HIV Nyeri pada sendi lutut dan pergelangan

Berespon baik terhadap agen anti-inflamasi

Serangan tiba-tiba pada bahu dan elbow

Mumps Terjadi pada pria 2 minggu setelah adanya parotitis

Masih banyak jenis virus lain yang menyebabkan arthritis. Yang diberikan di sini adalah yang prevalensinya tinggi.

Referensi

  1. Kumar, Abbas, Fausto. Robin’s and Cotran’s pathologic basis of disease. 7th ed. India: Elsevier. 2005.
  2. Ross JJ, Shamsuddin H. Sternoclavicular septic arthritis: review of 180 cases. Medicine (Baltimore). May 2004;83(3):139-48.
  3. McCune WJ, Golbus J. Monarticular arthritis. In: Harris ED, Budd RC, Genovese MC, Firestein GS, Sargent JS, Sledge CB. Kelley’s Textbook of Rheumatology. 7th ed. Philadelphia: Saunders Elsevier. 2005.
  4. 4. Khouqeer RA, Cohen M. Viral arthritis. [cited 2009 Dec 16]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/335692-overview.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s